Merdeka Dari Perasaan Takut
Merdeka bukan hanya tentang negara yang dijajah, melainkan juga perasaan. Pernahkah anda “merdeka” dari perasaan takut? Jika belum, maka anda sedang “dijajah” oleh perasaan anda sendiri. Takut kehilangan pengaruh, takut dikhianati pasangan, takut dijauhi teman, takut tidak diterima lingkungan, atau bahkan takut tidak mendapatkan jodoh.
Semua itu pasti kita rasakan sebagai makhluk yang memiliki perasaan. Diumur yang terbilang muda ini, kita selalu merasakan yang namanya takut dikhianati oleh pasangan kita.
Ia bernama Febrian. Hidupnya selalu diselimuti ketakutan akan pasangan, entah takut kehilangan pasangannya ataupun takut pasangannya mencampakkannya. Namun sekarang, ia bisa “merdeka” dari ketakutan tersebut.
Sebelumnya ia memiliki pasangan yang sangat cantik, perhatian, dan baik. Tetapi, semua berubah ketika kampus tidak lagi libur. Perhatian dan baiknya tidak tahu pergi kemana, bak ditelan oleh bumi. Hubungan tersebut semakin dingin tiap harinya, seperti sudah tidak ada rasa didalam dirinya. Hanya terdapat ucapan selamat pagi di kolom pesannya.
Ketakutan itu semakin timbul seiring dengan berjalannya waktu. Febrian selalu khawatir dengan pasangannya, selalu takut akan dicampakkan oleh pasangannya. Ia selalu menanyakan tentang hal ini, namun pasangannya hanya membalas sekadarnya. Hal ini membuat dirinya semakin takut.
Pada saat inilah ia sedang “dijajah” oleh perasaannya sendiri, “dijajah” dengan semua rasa takut yang timbul dari masalah yang muncul dari hubungannya.
Perasaan takut tersebut sangat berdampak ke dalam kehidupannya. Kuliah yang tidak fokus, malas dengan kegiatan yang biasa dilakukan, dan seringkali tubuhnya menjadi kurang fit.
Semua itu dirasakannya selama berbulan-bulan tanpa kepastian. Ia selalu mencoba untuk bertahan, namun kadang kala pikirannya tidak kuat menampung semua ketakutan tersebut. Sehingga ia menanyakan hal itu ke pasangannya, namun jawaban yang keluar dari mulut pasangannya hanya membuat dirinya semakin takut.
Sampai di titik dimana ia mau mencoba untuk memerdekakan perasaannya dari semua rasa takut yang ada.
Hari dimana rasa takutnya diuji pun tiba. Ia menanyakan semua hal yang membuat perasaannya takut,
“Kenapa semua berbeda? kenapa seolah-olah hanya aku yang menginginkan hubungan ini?,” tanya Febrian.
Cukup lama hingga pasangannya membalas,
“Tidak ada yang berbeda, aku juga sudah effort!,” jawabnya.
Padahal faktanya, selalu Febrian yang meluangkan waktunya dan tenaganya. Namun memang mungkin karena pasangannya tinggal di pondok mahasiswa, menjadikannya sibuk dan berfikir jika effort yang sudah dilakukannya sangat berarti. Akan tetapi itu sama sekali belum cukup menurut Febrian.
Percakapan pun berlanjut,
“Mungkin memang sudah susah untuk dilanjut, kita sudahi saja.” Lanjutnya.
Pikiran Febrian campur aduk, ia kaget, speechless, sama sekali tidak percaya dengan jawaban dari pasangannya. Febrian sangat kecewa dengannya, ia tidak terima dengan keputusan tersebut.
Sangat berat untuknya melepaskan perempuan itu. Apa daya, keputusan itu sudah mutlak, ia resmi berpisah dengan pasangannya. Meski salah satu rasa takutnya sudah dapat ia lewati, yaitu takut kehilangan pasangannya, namun ia masih gelisah.
Sulit untuk menerima semua itu, membuatnya menjadi sering gelisah. Sesekali ia memberi kode lewat status di instagramnya bahwa ia sedang sedih. Akan tetapi tidak ada reaksi dari mantan pasangannya itu.
Ia belum berubah, semangatnya masih redup. Laptop pun belum terjamah olehnya setelah kejadian itu. Kerjaan terlalaikan, begitu juga dengan kegiatan di kampusnya.
Sama sekali tidak ada semangat dalam dirinya. Ia hanya terus berdoa kepada yang kuasa jawaban yang terbaik bagi dirinya.
Hari silih berganti, perasaannya pun masih belum bisa melepas kepergian sang kekasih. Namun, ada titik terang yang muncul. Teman seperjuangannya selama di asrama kembali.
Setiap harinya dihabiskan hanya untuk main game, atau hanya sekedar mengobrol saja. Hal itu membuat Febrian mendapatkan semangatnya kembali. Perasaan takut yang selama ini menyelimuti, kini mulai tertutupi dengan perasaan senang yang diakibatkan oleh teman-temannya.
Kini ia menjadi lebih tenang, jarang gelisah, tetapi sesekali teringat sang mantan. Tiap kali ia teringat mantan kekasihnya, ia selalu mencari teman-temannya agar dapat diajak bermain game.
Febrian menjadi lebih aktif dengan teman-teman kampusnya. Ia lebih banyak berbaur dari biasanya, sampai mengajak teman-temannya olahraga bulu tangkis bersama.
Ia juga menjadi lebih sering olahraga, mulai dari bersepeda, hingga ke olahraga kecintaannya yaitu futsal.
Semua ia lakukan untuk menutupi kesedihan yang ada dalam dirinya, dan juga untuk memerdekakan perasaannya dari rasa takut.
Ia kembali menjadi pribadi yang periang, yang suka melempar lelucon, dan kembali dengan fokusnya yang lama.
Sekarang, Febrian telah merdeka dari perasaan takutnya akan kehilangan pasangan, tetapi ia tetap menyayangi mantan pasangannya meskipun mereka sudah tidak lagi bersama.
Komentar
Posting Komentar